Berhenti Terapkan Parenting Permissive! Mari Ajarkan Anak Mandiri

Pernahkah kita mendengar, “Kasihan, anak masih kecil sudah disuruh masak sendiri,” atau “Orang tuanya apa malas mengurus anak, sih?” padahal orang tua tersebut bukan sedang mengeksploitasi anaknya dengan pekerjaan rumah, tapi justru berusaha membangun kemandirian anaknya sejak dini. Masih banyak ditemui kasus anak home-service yang segalanya harus dituruti dan dilayani orang tuanya lahir dari kesalahan parenting permissive yang terlalu membebaskan anak hingga menjadikannya manja, kurang bertanggung jawab, bahkan kesulitan menyelesaikan masalah.

Memanjakan anak sebagai bentuk kasih sayang memang boleh, tetapi tidak dilakukan dengan berlebihan dan tetap harus diiringi dengan tanggung jawab. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya (bekerja) sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud as. memakan makanan dari hasil usahanya sendiri." (HR. Bukhari). Sedari kecil, beliau menggembala kambing bukan karena dipaksa, tapi untuk membentuk tanggung jawab.

Sebagai orang tua, tentu kita tidak bisa selalu menjamin anak terbebas dari kesulitan di hidupnya di masa mendatang. Maka dari itu, beberapa tips pola asuh berikut dapat diterapkan untuk menyiapkan anak menghadapi hidup dengan mandiri.

1. Berikan Tugas Rumah Tangga Bertahap

Latih anak dari usia 2–3 tahun dengan tugas ringan seperti menaruh mainan atau pakaian kotor. Usia 4–6 tahun bisa membantu menyapu, membuang sampah kecil, dan memasak. Anak 7 tahun ke atas dapat merapikan tempat tidur, mencuci piring, dan menyiapkan bekal.  

2. Orang tua Harus Kompak dan Konsisten

Ayah dan Ibu harus sepakat dan konsisten dalam membuat dan menerapkan peraturan untuk anak, tidak berubah-ubah tergantung suasana hati. Misalnya, jika sepakat anak merapikan mainannya sendiri, jangan tiba-tiba dilayani karena anak merengek.

3. Jadilah Teladan dan Ajak Anak Terlibat Langsung

Anak kecil sangat pintar dalam meniru orang tuanya. Jika orang tua terbiasa membersihkan rumah dan tidak menggampangkan segalanya, anak pun lebih mudah diajak ikut serta dalam kegiatan rumah.

4. Tumbuhkan Tanggung Jawab lewat Kebiasaan dan Rutinitas

Beri anak rutinitas harian sederhana, seperti bangun tidur, merapikan kasur, lalu mandi dan makan. Hindari mengomeli anak atau langsung membantu saat mereka malas atau berantakan, biarkan mereka belajar menyelesaikan sendiri.

5. Disiplin Lembut, Bukan Pemaksaan

Jika anak melalaikan tugas dan tanggung jawab mereka, bantu ingatkan mereka dengan cara menyenangkan, bukan marah-marah. Ini akan membentuk karakter disiplin tanpa mematikan semangat mereka.

Mengajarkan anak kemandirian bukan berarti orang tua kejam. Justru di sanalah wujud kasih sayang yang sejati, membimbing anak menjadi pribadi tangguh, sopan, dan bertanggung jawab. Dengan tidak menghindarkan anak dari semua kesulitan sebagaimana parenting permissive, anak belajar cara menghargai usaha, membantu, dan siap menghadapi dunia nyata di masa depannya kelak.

Referensi:

Prastiwi, Mahar. (2021). "Bukan Eksploitasi, Ini Pekerjaan Rumah yang Sesuai Usia Anak". https://edukasi.kompas.com/read/2021/02/09/122337471/bukan-eksploitasi-ini-pekerjaan-rumah-yang-sesuai-usia-anak. Diakses pada 4 Juli 2025.

Rohmawati, Wiwin dkk. (2023). “Pendampingan Keluarga dalam Edu Parenting untuk Stop Generasi Home Service”. Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan 5(1): 7-10.

Tamba, Edgar Manuel Durando. (2021). “The Influence of Parenting Style on the Character of Discipline, Responsibility, and Respect for Middle Childhood Age Children”. Journal of Creativity Student 6(2): 167-186.

Tags:

Komentar

Memuat komentar...