Menghapus Sekat Gender di Dunia Anak
Kegiatan bermain adalah hal paling menyenangkan bagi anak-anak. Umumnya mereka bermain secara individu ataupun berkelompok dengan alat atau mainan yang sudah diproduksi sesuai usia dan mengembangkan bakat mereka. Sebab, harapan orang tua mereka bukan hanya bermain melainkan belajar menyelesaikan masalah. Namun, orang tua dan masyarakat kerap kali mengkotak-kotakkan mainan anak berdasarkan gender. Laki-laki hanya boleh bermain mobil-mobilan, perang-perangan, dan taktik jitu menaklukan musuh. Sedangkan, mainan perempuan berkutat pada mengasuh boneka, riasan wajah, dan rumah-rumahan. Sejak kapan mainan mulai dikotakkan berdasarkan gender?
Pada tahun 1953 pabrik mainan bernama Harriet Hubbar Ayer mengiklankan Cosmetic Doll di majalah LIFE. Deskripsi iklannya yaitu, para gadis kecil dapat belajar seni tata rias, merasa sangat dewasa, dengan boneka berukuran 14” inch ini. Wajahnya dapat dibersihkan dan ditata berulang kali! Dilengkapi dengan perlengkapan riasan yang aman, meja rias, serta buku petunjuk. Mainan ini untuk usia 5 sampai 10 tahun. Lalu, selepas Perang Dunia II, masyarakat menganggap standar kecantikan perempuan terletak pada kepiawaian mereka menggunakan riasan di depan umum. Oleh karena itu, produsen mainan kemudian membuat produk boneka kosmetik untuk melatih anak perempuan mengenakan riasan sejak usia lima tahun. Kemudian, pada akhir 1950-an muncul iklan televisi yang menyajikan foto anak laki-laki aktif bermain di alam, bereksplorasi dengan teks yang menggambarkan mereka sebagai powerful agents dalam petualangannya. Iklan tersebut menekankan bahwa laki-laki adalah tokoh utama di dunia. Laki-laki diharapkan menjadi pemimpin, penjelajah, dan memiliki kekuatan fisik yang mumpuni serta cakap dalam strategi. Lalu, apa dampak dari tuntutan masyarakat terhadap perkembangan anak?
Pembatasan mainan berdasar gender memiliki dampak signifikan pada kecerdasan emosional dan sosial bagi anak laki-laki. Sebab mereka jarang bermain peran empatik seperti merawat rumah, merawat boneka, dan masak-masakan. Sedangkan, anak perempuan memiliki minat yang rendah dalam mempelajari sains, teknologi, teknik, dan matematika karena tidak didorong untuk bermain konstruktif dan pemecahan masalah semacam lego dan perang-perangan. Pada tahun 2015 kampanye Let Toys Be Toys yang diselenggarakan oleh orang tua dan para akademisi di Amerika menolak label laki-laki dan perempuan dalam pemasaran mainan mendapat respon positif dari para produsen mainan anak internasional. Selanjutnya, bagaimana menciptakan aktivitas bermain yang seimbang netral gender?
Berikut ini adalah strategi menciptakan aktivitas bermain dan seimbang dan netral gender:
- Pilih mainan berdasarkan fungsi dan tujuan. Mainan dapat dipilih dengan tujuan mengembangkan keterampilan problem solving, kreativitas, memupuk empati, menjernihkan logika, dan merajut kerja sama. Misalnya pengembangan logika dan koordinasi bisa memilih puzzle dan lego. Lalu, kreativitas dapat dibangun dengan melakukan eksperimen bersama.
- Rancang permainan yang menggabungkan berbagai keterampilan. Misalnya, poyek membangun Kota Impian yang bisa melibatkan berbagai elemen. Anak-anak merancang bentuk fisik kota dengan balok, kertas, dan benda-benda di sekitarnya. Kemudian, anak-anak diajak menyusun cerita tentang tokoh penghuni kota tersebut. Selanjutnya, anak-anak diajak menyelesaikan masalah di dalam kota bersama-sama. Dari tiga komponen tersebut anak sudah mengembangkan kemampuan logika, narasi, empati, kolaborasi, dan komunikasi.
- Berikan role model yang beragam. Tunjukkan bahwa laki-laki bisa menjadi koki, guru, dan perawat. Dan perempuan juga bisa menjadi pilot, tentara, dan insinyur.
- Libatkan guru dan orang sekitar. Berikan pemahaman mendasar untuk tidak memaksa anak memilih mainan berdasarkan gender.
- Beri kekebasan pilihan dan validasi apa pun minat anak. Anak perlu merasa diakui, diterima, dan dihargai keinginannya.
Dalam Islam, amal saleh dan potensi terbaik yang dimiliki setiap individu dinilai dinilai berdasarkan niat dan manfaat bukan dilihat dari jenis kelamin. Seperti termaktub dalam ayat al-Qur’an surah an-Nahl ayat 97, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan,”
Bahan Bacaan:
Fallon, A., & Engel, C. (2008). Hypertensive disorders of pregnancy. The Practising Midwife, 11(9), 1-27. Diakses 24 Juni 2025 dari https://www.practisingmidwife.co.uk
Buckingham. David. (2010). childhood-and-the-mediatization-of-marketing-1955-1965. Diakses 12 Juni 2025 dari https://davidbuckingham.net.
Davidson. Lisa. (2021). Jim Heimann and Steven Heller document a century of all-American toy adverts in a new nostalgia-inducing publication from TASCHEN. Diakses 13 Juni 2025 dari https://www.we-heart.com/.
Richardson. Abigail. (2022). The Gendering of Girls Toys diakses 14 Juni 2025 dari https://genderhistory.pubpub.org.
Komentar