Gambar sampul untuk Sepatu yang Hilang

        “SIAPA!? SIAPA YANG MENYEMBUNYIKAN SEPATUKU?!”

        Teriakan itu meledak di kelas seperti kaca dilempar ke lantai. Suaranya serak, habis digerus amarah yang terlalu lama dikunyah. Mata Gohi melotot, merah dan basah, seperti orang yang kurang tidur tetapi dipaksa bangun untuk bertarung. Tangannya menggebrak meja berkali-kali. Buku tulis bergeser, pulpen menggelinding, dan debu kapur jatuh perlahan dari papan tulis.

        Napasnya tersengal-sengal. Bukan karena ia berlari, melainkan karena marah memang membutuhkan tenaga lebih besar daripada berpikir.

        Tak ada yang menjawab.

        Kelas kami tiba-tiba berubah menjadi ruang pengadilan tanpa hakim. Tiga puluh lima pasang mata menunduk, pura-pura sibuk dengan buku, tas, atau sepatu sendiri. Sunyi menggantung, sunyi yang lebih keras daripada teriakan itu sendiri.

        Ironisnya, hari itu justru Gohi yang kehilangan.

        Gohi—murid paling jahil seantero kelas, mungkin seantero sekolah. Anak yang selalu punya cara membuat orang lain panik, cemas, dan merasa bodoh. Ia menyembunyikan barang bukan karena membutuhkannya, melainkan karena menikmati detik-detik saat pemiliknya kehilangan kendali. Ia hidup dari kepanikan orang lain. Dari wajah pucat, suara gemetar, dan tuduhan-tuduhan yang tak pernah bisa dibuktikan.

        Hari itu, untuk pertama kalinya, ia berlari dari meja ke meja. Membuka laci, mengintip kolong bangku, bahkan masuk ke ruang kelas sebelah. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Sepatunya—sebelah kiri—hilang. Entah ke mana.

        Ia, yang biasanya duduk santai sambil cekikikan, kini seperti tikus yang terjebak di ruang terang.

        Hampir semua dari kami pernah menjadi korbannya.

        Jane, misalnya.

        Suatu siang, gawainya raib. Padahal jelas-jelas ia meletakkannya di atas meja. Saat itu ia sedang mengobrol asyik dengan temannya, tertawa kecil sambil memainkan ujung jilbab. Lalu, dalam sekejap, benda itu lenyap. Jane berhenti tertawa. Tangannya meraba meja berulang kali, seperti orang buta yang kehilangan tongkat.

        “HP-ku tadi di sini,” katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

        Ia panik. Wajahnya pucat, matanya berair. Sepanjang hari ia tak benar-benar mengikuti pelajaran. Setiap lima menit ia membuka tas, berharap gawai itu muncul dengan sendirinya. Ketika bel pulang berbunyi, ia hampir menangis.

        Di depan gerbang sekolah, ayahnya sudah menunggu.

        Saat itulah Gohi datang. Dengan langkah santai, wajah polos palsu, dan senyum iseng yang membuat siapa pun ingin menamparnya.

        “Siapa yang naruh di sini?” katanya.

        Ia mengambil gawai itu dari kolong meja Jane, mengangkatnya tinggi-tinggi seperti menemukan harta karun. Jane membeku. Amarahnya muncul, tapi segera padam. Ada ayahnya. Ada pagar sekolah. Ada batas tak tertulis yang selalu memaksa korban menelan ludah dan pulang dengan perasaan kalah.

        Aku menyaksikan semua itu. Diam.

        Lain lagi dengan aku sendiri.

        Kotak makanku hilang beberapa hari lalu. Kotak sederhana, warna hijau pudar, tutupnya agak retak di sudut. Ibuku selalu memasukkan nasi hangat dan sayur bening ke dalamnya. Aku yakin menaruhnya di tas. Tapi saat jam istirahat tiba, tas itu kosong.

        Aku mengobrak-abrik isinya. Buku. Pensil. Seragam olahraga. Tidak ada.

        Aku menelepon rumah. Suara ibuku di seberang sana justru meninggi.

        “Bagaimana mungkin kotak makan segede itu bisa hilang?”

        Aku mencoba menjelaskan. Kata-kataku patah-patah, terasa bodoh bahkan di telingaku sendiri. Di belakangku, aku mendengar tawa kecil. Gohi. Dihe. Korto. Mereka cekikikan seperti menonton pertunjukan badut.

        Aku bertanya pada mereka. Mereka menjawab ringan, seolah aku yang berlebihan.

        “Jangan menuduh,” kata Gohi.

        “Mana buktinya?” tambah Dihe.

        Aku diam.

        Hari itu aku pulang telat. Berkeliling kelas, kantin, bahkan toilet. Kotak itu tak pernah kutemukan. Di rumah, aku dimarahi. Aku belajar satu hal: kehilangan bukan hanya soal benda, tapi juga soal kepercayaan.

        Keesokan harinya, kotak itu muncul.

        Di bangkuku.

        Berisi nasi dan sayur yang sudah basi.

        Baunya menyengat, seperti sesuatu yang sengaja dibiarkan busuk. Aku menatapnya lama. Tanganku mengepal. Jari-jariku gemetar. Ada amarah yang naik ke tenggorokan, tapi tertahan. Aku menelan napas dalam-dalam. Diam lagi. Seperti biasa.

        Yang paling parah adalah Jinwe.

        Bukunya hilang. Buku pelajaran utama. Ia mengeluarkan isi tasnya satu per satu. Tangannya gemetar. Keringat muncul di dahi. Ia menelepon rumah, suaranya bergetar.

        “Di rumah nggak ada,” katanya setelah menutup telepon.

        Ia bertanya pada teman-teman. Semua menggeleng. Semua, kecuali Gohi.

        Gohi menggeleng dengan cara yang aneh. Perlahan. Sambil tersenyum kecil. Penuh makna.

        Hasilnya sudah bisa ditebak.

        Pak Bonar masuk kelas dengan wajah gelap. Suaranya berat, langkah kakinya seperti genderang perang. Jinwe berdiri di depan kelas. Ia mencoba menjelaskan, tapi kata-katanya patah. Tangisnya pecah.

        Ia kena strap.

        Setiap bunyi tali itu mendarat di tangannya, dadaku ikut bergetar. Jinwe menangis. Ia menerima hukuman untuk kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Kami semua menunduk. Diam. Tak satu pun berani bicara.

        Hari itu, sesuatu di dalam diriku benar-benar retak.

        Pagi Senin datang dengan matahari pucat. Upacara bendera terasa lebih lama dari biasanya. Ketika barisan belum rapi, tawa meledak dari belakang.

        Gohi.

        Ia berteriak-teriak seperti orang kesetanan.

        Dan benar saja—ia hanya memakai satu sepatu.

        Seluruh sekolah tertawa. Tawa yang lama disimpan akhirnya pecah. Ada kepuasan yang tak diucapkan. Senin itu, Gohi menjadi bahan tertawaan semua orang. Wajahnya merah padam. Urat di lehernya menegang. Kemarahannya naik sepuluh oktaf.

        Setelah upacara, kami kembali ke kelas.

        Sepatu itu sudah ada di meja Gohi.

        Namun amarahnya tak surut. Ia mengumpat, sumpah serapahnya histeris.

        “SIAPA YANG MENYEMBUNYIKAN SEPATUKU?!”

        Tak ada yang menjawab.

        “Kamu ya!?” Dihe menunjuk ke arahku.

        “Mana aku tahu,” jawabku.

        “Ini apa!?” Korto menunjukkan ponsel. Sebuah foto. Aku. Memegang sepatu Gohi.

        Dadaku tercekat.

        Brengsek. Aku ketahuan.

        Tak kusangka mereka punya mata-mata.

        Gohi mendekat. Matanya menyala.

        “Maksudmu apa!?”

        Aku diam. Aku takut. Tapi ada sesuatu yang lebih besar dari takut—ingatan Jane, kotak makanku yang basi, tangis Jinwe.

        “Sudah, hajar saja,” kata Dihe.

        “Orang seperti ini harus dikasih pelajaran,” tambah Korto.

        Jarak kami sekitar dua meter.

        Gohi berlari.

        “Braaakk!”

        Refleks. Kakiku terangkat. Tendanganku mendarat tepat di dadanya. Latihan karate bertahun-tahun akhirnya menemukan maknanya. Gohi terlempar, terengah-engah.

        Aku berdiri. Jantungku berdegup keras. Tapi aku tidak mundur.

        “Kalian berdua maju sekalian,” kataku datar.

        Dihe dan Korto mundur. Ketakutan punya bau. Aku bisa menciumnya.

        “Katanya mau kasih pelajaran?” kataku lagi.

        Gohi mengusap dadanya. Wajahnya masih jengkel, tapi matanya kini ragu. Ia sadar: kalau nekat, ia akan kalah.

        Anak-anak bersorak. Untuk pertama kalinya, sorakan itu bukan untuk keusilan.

        Aku mendekatinya perlahan.

        “Seperti itu rasanya diusilin,” kataku. Tenang. Dingin.

        “HEI! ADA APA INI!?”

        Kami membeku.

        Pak Bonar berdiri di depan pintu.

        Sepatu kirinya berdebu.

        Matanya menatap kami satu per satu.

        Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menunduk.

Komentar

Memuat komentar...