Gambar sampul untuk Escape Ala Rasulullah

Escape dalam bahasa inggris dimaknai dengan melarikan diri. Belakangan ini, tagar #kaburajadulu ramai diperbincangkan di media sosial. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan keinginan seseorang untuk pindah ke luar negeri guna mencari peluang kerja, pendidikan, atau kehidupan yang dianggap lebih baik. Tagar ini merefleksikan fenomena sosial di mana banyak individu merasa tidak lagi menemukan harapan atau ruang berkembang di lingkungan asalnya, sehingga memilih untuk “kabur” sebagai bentuk ikhtiar atas situasi tersebut.

Tindakan escape ternyata bukan hal baru, bahkan telah dilakukan sejak zaman para nabi. Salah satu contohnya adalah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Sebagaimana diketahui, kondisi masyarakat Arab sebelum datangnya Islam dikenal sebagai zaman jahiliah atau masa kebodohan spiritual dan moral merajalela. Masyarakat hidup tanpa tuntunan agama yang benar dan lebih mengutamakan sistem kesukuan sebagai dasar kehidupan sosial. Pada masa sebelum kenabian, Nabi Muhammad memilih untuk mengasingkan diri dari keramaian Kota Makkah dengan melakukan uzlah. Tindakan mengasingkan diri ini memberikan ruang untuk merenungi kondisi masyarakat, serta melihat cahaya kebenaran di tengah kegelapan moral dan spiritual yang melanda. Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan bahwa uzlah dilakukan untuk memfokuskan pikiran dalam merenungi alam semesta, mengamati fenomena keindahan ciptaan Allah, dan menyelaraskan ruh dengan ruh alam wujud. Dalam kesendirian itu, jiwa Rasulullah saw. menyatu dengan keindahan dan kesempurnaan, berinteraksi dengan hakikat-hakikat agung, serta berlatih bergaul dengannya secara penuh kesadaran dan pemahaman yang mendalam. Dari proses pengasingan diri itulah, Allah Swt. menurunkan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw. yaitu diawali dengan kata iqro. Iqro merupakan langkah awal untuk mencerdaskan umat.

Dari kisah tersebut kita dapat memahami bahwa, escape bukan semata-mata perpindahan fisik, melainkan juga sebuah proses transformasi diri: mencari ruang baru, baik lahiriah maupun batiniah, untuk menata ulang kehidupan, menimba ilmu, dan membangun harapan yang lebih cerah.

 

Referensi

Mubasyaroh. (2015). Karakteristik dan Strategi Dakwah. At-Tabsyir: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam.

Putri Sari MJ Silaban. (2025). Menghadapi Ancaman Nasionalisme Disintegrasi Bangsa di Tengah Trend Kabur Aja Dulu. Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia. 193-199.

Kristina. 2022. “Mengapa Nabi Muhammad SAW Melakukan Uzlah di Gua Hira?”. https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6387362/mengapa-nabi-muhammad-saw-melakukan-uzlah-di-gua-hira. Diakses pada 23 Juli 2025 pukul 14.22.

 

 

Tags:

Komentar

Memuat komentar...